Pada
Zaman Imam Abu Hanifah hiduplah seorang ilmuwan besar, atheis dari kalangan
bangsa Romawi.
Pada
suatu hari, Ilmuwan Atheis tersebut berniat untuk mengadu kemampuan berfikir
dan keluasan ilmu dengan ulama-ulama Islam. Dia hendak menjatuhkan ulama Islam
dengan beradu argumentasi. Setelah melihat sudah banyak manusia yang berkumpul
di dalam masjid, orang kafir itu naik ke atas mimbar. Dia menantang siapa saja
yang mau berdebat dengannya.
Dan
diantara shaf-shaf masjid bangunlah seorang laki-laki muda, dialah Abu Hanifah
dan ketika sudah berada dekat di depan mimbar, dia berkata :
“Inilah
saya, hendak bertukar fikiran dengan tuan”. Mata Abu Hanifah berusaha untuk
menguasai suasana, namun dia tetap merendahkan diri karena usianya yang masih
muda. Abu Hanifah berkata, “sekarang apa yang akan kita perdebatkan!”.
Ilmuwan kafir itu
heran akan keberanian Abu Hanifah, dia lalu memulai pertanyaannya :
Atheis : Pada tahun
berapakah Tuhan-mu dilahirkan?
Abu Hanifah : Allah
berfirman “Dia (Allah) tidak dilahirkan dan tidak pula melahirkan”.
Atheis : Masuk
akalkah bila dikatakan bahwa Allah adalah yang pertama dan tidak ada sesuatu
sebelum-Nya?, pada tahun berapa Dia ada?
Abu Hanifah : Dia
(Allah) ada sebelum adanya sesuatu.
Atheis : Kami mohon
diberikan contoh yang lebih jelas dari kenyataan!
Abu Hanifah : Tahukah tuan tentang perhitungan?
Atheis : Ya.
Abu Hanifah : Angka
berapa sebelum angka satu?
Atheis : Tidak ada
angka (nol).
Abu Hanifah : Kalau
sebelum angka satu tidak ada angka lain yang mendahuluinya, kenapa tuan heran
kalau sebelum Allah Yang Maha satu yang hakiki tidak ada yang mendahului-Nya?
Atheis : Dimanakah
Tuhan-mu berada sekarang?, sesuatu yang ada pasti ada tempatnya.
Abu Hanifah : Tahukah tuan bagaimana bentuk susu?, apakah di dalam susu itu
keju?
Atheis : Ya, sudah
tentu.
Abu Hanifah : Tolong
perlihatkan kepadaku di mana, di bagian mana tempatnya keju itu sekarang?
Atheis : Tak ada
tempat yang khusus. Keju itu menyeluruh meliputi dan bercampur dengan susu di
seluruh bagian.
Abu Hanifah : Kalau
keju makhluk itu tidak ada tempat khusus dalam susu tersebut, apakah layak tuan
meminta kepadaku untuk menetapkan tempat Allah Ta’ala?, Dia tidak bertempat dan
tidak ditempatkan!
Atheis :Tunjukkan
kepada kami zat Tuhan-mu, apakah ia benda padat seperti besi, atau benda cair
seperti air, atau menguap seperti gas?
Abu Hanifah :
Pernahkan tuan mendampingi orang sakit yang akan meninggal?
Atheis :Ya, pernah.
Abu Hanifah :
Sebelum ia meninggal, sebelumnya dia bisa berbicara dengan tuan dan
menggerak-gerakan anggota tubuhnya. Lalu tiba-tiba diam tak bergerak, apa yang
menimbulkan perubahan itu?
Atheis : Karena
rohnya telah meninggalkan tubuhnya.
Abu Hanifah : Apakah
waktu keluarnya roh itu tuan masih ada disana?
Atheis : Ya, masih
ada.
Abu Hanifah:
Ceritakanlah kepadaku, apakah rohnya itu benda padat seperti besi, atau cair
seperti air atau menguap seperti gas?
Atheis : Entahlah,
kami tidak tahu.
Abu Hanifah : Kalau
tuan tidak boleh mengetahui bagaimana zat maupun bentuk roh yang hanya sebuah
makhluk, bagaimana tuan boleh memaksaku untuk mengutarakan zat Allah Ta’ala?!!
Atheis : Ke arah
manakah Allah sekarang menghadapkan wajahnya? Sebab segala sesuatu pasti
mempunyai arah?
Abu Hanifah : Jika
tuan menyalakan lampu di dalam gelap malam, ke arah manakah sinar lampu itu
menghadap?
Atheis : Sinarnya
menghadap ke seluruh arah dan penjuru.
Abu Hanifah : Kalau
demikian halnya dengan lampu yang cuma buatan itu, bagaimana dengan Allah
Ta’ala Pencipta langit dan bumi, sebab Dia nur cahaya langit dan bumi.
Atheis : Kalau ada
orang masuk ke syurga itu ada awalnya, kenapa tidak ada akhirnya? Kenapa di
syurga kekal selamanya?
Abu Hanifah :
Perhitungan angka pun ada awalnya tetapi tidak ada akhirnya.
Atheis : Bagaimana
kita boleh makan dan minum di syurga tanpa buang air kecil dan besar?
Abu Hanifah : Tuan
sudah mempraktekkanya ketika tuan ada di perut ibu tuan. Hidup dan makan minum
selama sembilan bulan, akan tetapi tidak pernah buang air kecil dan besar
disana. Baru kita melakukan dua hajat tersebut setelah keluar beberapa saat ke
dunia.
Atheis : Bagaimana
kebaikan syurga akan bertambah dan tidak akan habis-habisnya jika dinafkahkan?
Abu Hanifah : Allah
juga menciptakan sesuatu di dunia, yang bila dinafkahkan malah bertambah
banyak, seperti ilmu. Semakin diberikan (disebarkan) ilmu kita semakin
berkembang (bertambah) dan tidak berkurang.
“Ya! kalau segala
sesuatu sudah ditakdirkan sebelum diciptakan, apa yang sedang Allah kerjakan
sekarang?” tanya Atheis.
“Tuan menjawab
pertanyaan-pertanyaan saya dari atas mimbar, sedangkan saya menjawabnya dari
atas lantai. Maka untuk menjawab pertanyaan tuan, saya mohon tuan turun dari
atas mimbar dan saya akan menjawabnya di tempat tuan”, pinta Abu Hanifah.
Ilmuwan kafir itu
turun dari mimbarnya, dan Abu Hanifah naik di atas.
“Baiklah, sekarang
saya akan menjawab pertanyaan tuan. Tuan bertanya apa pekerjaan Allah
sekarang?”.
Ilmuwan kafir
mengangguk. “
Sumber : www.kebunhikmah.com
Posted by revoltneverdie at 12:32 am
Make a comment Permalink
MEMBACA PIKIRAN TUHAN
Atheis : Pada
suatu saat, tuhan-tuhan digunakan sebagai penjelasan bagi segala bentuk
fenomena fisik semacam angina, hujan, dan gerak planet. Begitu sains mengalami
kemajuan, maka agen-agen supranatural ditemukan tak berguna lagi sebagai
penjelasan untuk kejadian-kejadian alamiah. Mengapa anda menegaskan keikutsertaan
Tuhan untuk menjelaskan dentuman besar?
Theis : Sains
yang anda miliki tak dapat menjelaskan segala sesuatu. Dunia penuh dengan
misteri. Umpamanya, ahli-ahli biologi yang paling optimistis sekalipun mengakui
bahwa mereka dibingungkan oleh asal-usul kehidupan.
Atheis : Saya
sepakat bahwa sains belum menjelaskan segala sesuatu, tetapi itu tidak berarti
ia tidak dapat. Para penganut theisme senantiasa tergoda untuk memanfaatkan
proses apapun yang sains tak dapat menjelaskannya pada waktu itu dan mengklaim
bahwa tuhan masih diperlukan untuk menjelaskannya. Lalu, begitu sains mengalami
kemajuan, tuhan pun ditekan keluar. Anda harus mengambil pelajaran bahwa “Tuhan
pengisi celah” ( god of the gaps) bukanlah hipotesis yang dapat dipercaya.
Begitu waktu berlanjut, kian lama kian sedikit celah-celah yang tersisa untuk
didiami-Nya. Secara pribadi, saya tidak melihat ada persoalan dalam sains untuk
menjelaskan seluruh fenomena alamiah, termasuk asal-usul kehidupan. Saya
mengakui bahwa asal-usul alam semesta merupakan sebiji kacang yang terlalu keas
untuk dipecahkan. Tetapi jika, sebagaimana ta,paknya, kita saat ini telah
mencapai tahap dimana satu-satunya celah yang tertinggal adalah dentuman besar
(big bang). Maka mengikutsertakan konsep tentang wujud supranatural yang telah
dipecat dari segala yang lain, dalam kapasitas “selokan pamungkas” semacam ini,
menjadi sangat tidak memuaskan.
Theis : Saya
tidak mengerti mengapa. Sekalipun anda menolak ide bahwa Tuhan dapat bertindak
langsung dalam dunia fisik, sekali ia telah diciptakan, persoalan tentang asal
usul terakhir dunia itu berada dalam kategori yang sama sekali berbeda dari
persoalan menjelaskan fenomena-fenomena alamiah segera sesudah dunia eksis.
Atheis :
Tetapi anda tidak memiliki alasan lain untuk mempercayai eksistensi tuhan, maka
sekedar menyatakan “Tuhan menciptakan alam semesta” menjadi sepenuhnya ad hoc.
Ia sama sekali bukan penjelasan. Sebenarnya, statement tersebut secara esensial
hampa makna, karena anda sekedar mendefinisikan Tuhan sebagai agen yang
menciptakan alam semesta. Pemahaman saya tidak berkembang lebih jauh dengan
perlengkapan ini. Satu misteri (asal usul alam semesta) dijelaskan hanya dari
sisi pandang yang lain (Tuhan). Sebagai seorang ilmuwan saya tertarik kepada
pisau cukur Occam, yang kemudian mendiktekan bahwa hipotesis Tuhan ditolak
sebagai sebuah komplikasi yang tidak diperlukan. Betapa pun juga, saya
terdorong untuk bertanya, apa yang menciptakan Tuhan?
Theis : Tuhan
tidak memerlukan pencipta. Dia adalah satu wujud niscaya - dia mesti eksis.
Tidak ada pilihan dalam masalah ini.
Atheis :
Tetapi orang mungkin juga menegaskan bahwa alam semesta tidak membutuhkan
pencipta. Logika apapun untuk menjustifikasi eksistensi niscaya tuhan dapat
sama-sama baik, dan dengan simplisitas yang mengandung manfaat, diterapkan pada
alam semesta.
Theis : Tentu
saja ilmuwan sering mengikuti penalaran yang sama seperti yang saya miliki.
Mengapa sebuah benda jatuh? Karena gaya berat bekerja pada benda itu. Mengapa
gaya berat bekerja padanya? Karena ada medan gravitasi. Mengapa? Karena
ruang-waktu melengkung. Dan seterusnya. Anda sedang menggantikan satu deskripsi
dengan deskripsi lain, yang lebih mendalam, yang tujuannya sekedar untuk menjelaskan
sesuatu yang anda mulai, yaitu benda-benda yang jatuh. Mengapa anda kemudian
keberatan ketika saya melibatkan Tuhan sebagai penjelasan yang lebih mendalam
dan lebih memuaskan tentang alam semesta?
Atheis : Ah,
tetapi itu berbeda! Sebuah teori ilmiah harus berarti lebih dari sekedar
fakta-fakta yang sedang diupayakan untuk dijelaskan. Teori-teori yang baik
memberikan sebuah gambaran yang menyederhanakan tentang alam dengan membangun
pertautan-pertautan antara fenomena-fenomena yang terputus sampai sekarang ini.
Teori gravitasi Newton, umpamanya, membuktikan sebuah pertautan antara
gelombang lautan dan gerak bulan. Di samping itu, teori-teori yang baik
menyarankan pengujian-pengujian observasional, semacam memprediksi adanya
fenomena-fenomena baru. Mereka juga menyediakan gambaran-gambaran mekanistik
terinci tentang bagaimana persisnya proses-proses perhatian fisik terjadi dari
sisi pandang konsep-konsep dalam teori itu. Dalam kasus gravitasi, ini melalui
serangkaian persamaan yang mempertautkan kekuatan medan gravitasi dengan
hakikat sumber-sumber pengendapan. Teori ini memberi anda mekanisme yang cermat
tentang bagaimana benda-benda bekerja. Sebaliknya, satu Tuhan yang
diikutsertakan hanya untuk menjelaskan big bang gagal menurut kriteria secara
keseluruhan. Jauh dari menyederhanakan pandangan kita tentang dunia, Sang
Pencipta itu sendiri memperkenalkan sisi tambahan yang menyulitkan. Kedua,
tidak ada cara dengan mana kita dapat menguji hipotesis secara eksperimental.
Hanya ada satu tempat dimana Tuhan semacam itu termanifestasikan, yaitu Big
Bang, itu pun berakhir dan telah matang. Akhirnya perwujudan bulat “Tuhan
menciptakan alam semesta” gagal menyediakan penjelasan riil apapun kecuali jika
ia disertai sebuah mekanisme terinci. Umpamanya, orang ingin mengetahui
perlengkapan-perlengkapan apa untuk menunjukkan Tuhan ini, dan bagaimana
persisnya Dia bergerak di sekitar penciptaan alam semesta, mengapa alam semesta
memiliki bentuk seperti adanya, dan seterusnya. Singkatnya, kecuali jika anda
dapat menyediakan bukti dengan cara tertentu yang lain bahwa Tuhan semacam itu
ada, atau selain itu dapat memberikan sebuah gambaran terinci tentang bagaimana
Dia membuat alam semesta yang orang atheis semacam saya sekalipun akan
menghargainya lebih mendalam, lebih sederhana, dan lebih memuaskan, saya tidak
melihat alasan untuk mempercayai wujud semacam itu.
Theis :
Meskipun begitu, posisi anda sendiri sangat tidak memuaskan, karena anda
mengakui bahwa alasan untuk big bang terletak di luar lingkup sains. Anda
terpaksa menerima asal-usul alam semesta sebagai sebuah fakta kasar, tanpa
level penjelasan yang lebih dalam.
Atheis : Saya
agak lebih menerima eksistensi alam semesta sebagai sebuah fakta kasar
ketimbang menerima tuhan sebagai sebuah fakta kasar. Bagaimanapun juga, harus
ada satu alam semesta bagi kita, untuk berada di sini guna berargumentasi
tentang benda-benda ini!
(dikutip dari
buku Membaca Pikiran Tuhan, karya Paul Davies, halaman 74-79)
Posted by revoltneverdie at 12:23 am
Make a comment Permalink
TUKANG CUKUR
Seperti biasanya, seorang laki-laki, sebut saja Steve, datang ke
sebuah salon untuk memotong rambut dan jenggotnya. Ia pun memulai pembicaraan yang
hangat dengan tukang cukur yang melayaninya. Berbagai macam topik pun akhirnya jadi
pilihan, hingga akhirnya Tuhan jadi subyek pembicaraan.
"Hai Tuan, saya ini tidak percaya kalau Tuhan itu ada seperti
yang anda katakan tadi," ujar si tukang cukur.
Mendengar ungkapan itu, Steve terkejut dan bertanya, "Mengapa
anda berkata demikian?".
"Mudah saja, anda tinggal menengok ke luar jendela itu dan
sadarlah bahwa Tuhan itu memang tidak ada. Tolong jelaskan pada saya, jika
Tuhan itu ada, mengapa banyak orang yang sakit? mengapa banyak anak yang
terlantar?.Jika Tuhan itu ada, tentu tidak ada sakit dan penderitaan. Tuhan apa
yang mengijinkan semua itu terjadi..." ungkapnya dengan nada yang tinggi.
Steve pun berpikir tentang apa yang baru saja dikatakan sang tukang cukur.
Namun, ia sama sekali tidak memberi respon agar argumen tersebut tidak Lebih
meluas lagi. Ketika sang tukang cukur selesai melakukan pekerjaannya, Steve pun
berjalan keluar dari salon. Baru beberapa langkah, ia berpapasan dengan seorang
laki-laki berambut panjang dan jenggotnya pun lebat. Sepertinya ia sudah lama
tidak pergi ke tukang cukur dan itu membuatnya terlihat tidak rapi. Steve
kembali masuk ke dalam salon dan kemudian berkata pada sang tukang cukur,
"Tukang cukur itu tidak ada!"...
Sang tukang cukur pun terkejut dengan perkataan Steve tersebut.
"Bagaimana mungkin mereka tidak ada? Buktinya adalah saya. Saya
ada di sini dan saya adalah seorang tukang cukur," sanggahnya. Tambahnya
lagi. "Lihatlah, aku telah menawarkan sebagai tukang cukur, memberikan
pelayanan yang baik kepada tiap orang yang datang, bagaimana mungkin kamu dapat
berkata bahwa saya itu tidak ada. Lihatlah aku, aku ada. Pintu salonku telah
kubuka dengan lebar, Steve kembali berkata tegas,
"Tidak, mereka tidak ada. kalau mereka ada, tidak mungkin ada
orang yang berambut panjang dan berjenggot lebat seperti contohnya pria di luar
itu."
"Ah, anda bisa saja...Tukang cukur itu selalu ada di mana-mana.
Yang terjadi pada pria itu adalah bahwa dia tidak mau datang ke salon saya untuk
dicukur," jawabnya tenang sambil tersenyum.
"Tepat!" tegas Steve. "Itulah poinnya. Tuhan itu ada.
Yang terjadi pada umat manusia itu adalah karena mereka tidak mau datang
mencari dan menemui-Nya. Itulah sebabnya mengapa tampak begitu banyak
penderitaan diseluruh dunia ini...."
Posted by revoltneverdie at 11:26 pm
Make a comment Permalink
KEARIFAN PUNCAK
"Mulla Shadra seorang filosof yang sederajat dengan filosof Abu Nasir Farabi, Ibnu Sina, Syaikh Isyraq Suhrawardi, Nasiruddin Thusi, Ibnu Rusd, Ibnu Miskawai dan lain sebagainya. Juga penafsir serta penyempurna filsafat-filsafat Islam sebelumnya, dalam ilmu Irfan iapun sederajat dengan para urafa seperti Ibnu Arabi. Dalam kehidupannya ia berupaya jauh dari kehidupan mewah dan tidak mengejar kekuasaan dan tidak banyak berinteraksi dengan masyarakat awam. Pada tahun 1039 H atau 1631 dia ke desa kecil bernama Kahak yang terletak di dekat kota suci Qum dan menggunakan banyak waktunya untuk pensucian diri, tafakkur tentang hakikat-halikat segala sesuatu dan beribadah kepada Tuhan. Ia meninggalkan desa tersebut dan kembali lagi ke Syiraz pada tahun 1040 H atau 1632.Mulla Shadra berkeyakinan untuk sampai kepada kesempurnaan makrifat Tuhan (tauhid) dan ilmu akhirat (eskatologi) maka seseorang harus mutlak meninggalkan dunia, syahwat dan cinta pada kekuasaan disertai dengan kecerdasan akal, ketajaman fitrah dan kesucian jiwa."
![]()
Syiraz adalah kota bersejarah Iran dan terletak di wilayah Pars. Di zaman Mulla Shadra, pemerintah Iran di bawah kekuasaan keturunan Shafawiyan yang secara resmi mengakui kemerdekaan wilayah Pars, saudaranya menjadi raja di wilayah Pars dan salah satu menterinya adalah ayah Mulla Shadra.
Ayah Mulla Shadra –Khajah Ibrahim Qiwami– seorang negarawan yang cerdas dan mukmin serta memiliki kekayaan yang melimpah dan kedudukannya yang mulia lagi terhormat, namun setelah menunggu bertahun-tahun ia baru dianugerahkan seorang putra yang diberi nama Muhammad (Sadruddin) dan sehari-hari dipanggil Shadra, setelah dia dewasa kemudian digelari mulla yang berarti ilmuwan besar lalu digabungkan dengan nama kecilnya menjadi Mulla Shadra.
Sadruddin Muhammad (Shadra), merupakan anak tunggal seorang menteri raja yang menguasai wilayah luas Pars, hidup di lingkungan yang religius, terhormat dan mulia. Biasanya untuk anak-anak yang tinggal di lingkungan istana pada saat itu mereka diajar oleh guru privat di rumah mereka sendiri. Shadra seorang anak yang cerdas, semangat dan rajin belajar, dalam waktu yang singkat dia menguasai seluruh pelajaran yang diajarkan seperti, tata-bahasa Persia, Arab, seni dan tulisan indah. Pelajaran-pelajaran lain yang juga diperlajari misalnya, Fiqih, Logika dan Filsafat, tetapi Shadra yang belum balig waktu lebih condong ke Filsafat dan terkhusus dalam bidang Irfan. Hal ini dapat dilihat dari diarynya yang banyak tertulis syair-syair irfani berbahasa parsi dari Jalaluddin Maulawi, Araqi dan Attar.
Sebagian dari pelajaran di atas ia pelajari di kota Syiraz dan sebagian lagi dipelajari sewaktu berumur enam tahun di Qazwin. Di sana ia belajar dengan banyak guru dalam bidang yang beragam dan menyelesaikannya dengan cepat mulai dari pelajaran tingkat pertama, menengah sampai tingkat tinggi.
Mulla Shadra selama DI Qazwin bertemu dengan guru-guru besar seperti Syaikh Bahauddin Amili Ra dan Mir Damad Ra dan kemudian menuntut ilmu dari mereka. Dalam waktu yang cepat, dengan kecerdasan yang dimilikinya, ia dapat menguasai pelajaran dengan sempurna dan menjadi murid yang paling dihormati dan dicintai oleh kedua gurunya.
Dengan berpindahnya ibukota Shafawiyyah dari Qazwin ke Ishfahan (tahun 1006 H atau 1598 M)[1] Syaikh Bahauddin dan Mir Damad beserta muridnya juga hijrah ke kota tersebut dan meluaskan pengajarannya di sana. Pada masa itu, Mulla Shadra berusia 27 tahun dan secara resmi telah menamatkan semua pelajarannya.
Tidak diketahui secara pasti selama berapa tahun ia menetap di Ishfahan dan setelah itu ia ke kota mana. Kemungkinan besar setelah tahun 1010 H atau 1602 M ia hijrah dari Ishfahan ke kotanya Syiraz untuk mengurusi warisan kekayaan ayahnya, sebagian hartanya diberikan ke fakir miskin dan beberapa bagian diwakafkan untuk kepentingan umum di Syiraz.
Muhammad Ibrahim bin Yahya Qiwami Syirazi yang digelar Sadr al-Mutaallihin dan lebih dikenal sebagai Mulla Shadra adalah salah seorang filosof ilahi terbesar dan teragung yang mewarisi secara sempurna filsafat Islam dan pendiri aliran baru dalam filsafat Islam yang dinamakan al-Hikmah al-Muta’aliyah yang terus berpengaruh hingga saat ini.
Syaikh Muhammad Husain Garawi Isfahani Ra[2] bertutur ihwal Mulla Shadra: Jika ada orang yang mengetahui sempurna rahasia kitab Asfar[3] maka saya akan berguru kepadanya walaupun ke negeri Cina.
Mulla Shadra seorang filosof yang sederajat dengan filosof Abu Nasir Farabi, Ibnu Sina, Syaikh Isyraq Suhrawardi, Nasiruddin Thusi, Ibnu Rusd, Ibnu Miskawai dan lain sebagainya. Juga penafsir serta penyempurna filsafat-filsafat Islam sebelumnya, dalam ilmu Irfan iapun sederajat dengan para urafa seperti Ibnu Arabi.
Dalam kehidupannya ia berupaya jauh dari kehidupan mewah dan tidak mengejar kekuasaan dan tidak banyak berinteraksi dengan masyarakat awam. Pada tahun 1039 H atau 1631 dia ke desa kecil bernama Kahak yang terletak di dekat kota suci Qum dan menggunakan banyak waktunya untuk pensucian diri, tafakkur tentang hakikat-halikat segala sesuatu dan beribadah kepada Tuhan. Ia meninggalkan desa tersebut dan kembali lagi ke Syiraz pada tahun 1040 H atau 1632.
Mulla Shadra berkeyakinan untuk sampai kepada kesempurnaan makrifat Tuhan (tauhid) dan ilmu akhirat (eskatologi) maka seseorang harus mutlak meninggalkan dunia, syahwat dan cinta pada kekuasaan disertai dengan kecerdasan akal, ketajaman fitrah dan kesucian jiwa.
Lebih lanjut dia berkata bahwa seseorang yang tidak sampai pada derajat mukasyafah (penyingkapan) dalam memahami hakikat-hakikat segala sesuatu maka secara hakiki tidak bisa disebut sebagai hakim. Dia katakan bahwa hukum-hukum syariat sesuai dengan ilmu makrifat (filsafat ilahi dan irfan) dan tidak bertentangan satu sama lain.
Kata Mulla Shadra orang yang tidak ingin menapaki jalan spritual (suluk) dan tidak istiqamah dalam meraih mukasyafah atas apa yang telah diargumentasikan tidak akan mendapatkan manfaat dalam menghayati secara serius ayat-ayat al-Quran dan sebaiknya orang tersebut tidak mempelajari dan mendalami karya-karyanya. Orang seperti ini sebaiknya mempelajari ilmu-ilmu lahiriah seperti ilmu Bahasa, Sejarah, ilmu Ushul, ilmu Fiqih dan ilmu Hadis. Menurutnya sebagian besar masyarakat haram memperlajari ilmu makrifat ini karena kesulitan yang sangat dalam meraihnya dan mencapainya dibutuhkan niat suci, cita-cita yang tinggi, keinginan yang membaja dan taufik dari Tuhan.
Ilmu makrifat dipelajari hanya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, jika tidak maka dia tidak akan mungkin sampai pada hakikat ilmu tersebut, bahkan sebaliknya akan menjauhkannya dari jalan yang lurus dan tujuan suci. Seorang filosof yang bijaksana tidak boleh mengajarkan dan mewariskan ilmu itu kepada orang seperti ini.
Kelahiran dan wafat
Mulla Shadra lahir pada tahun 979 H atau 1571 M di kota Syiraz. Ayah Mulla Shadra khajah Ibrahim Yahya Qiwami Syirazi anak dari Qiwamuddin Muhammad seorang wakil raja dari keturunan Muzaffar.
Syiraz saat itu merupakan kota yang paling tenang dan paling indah di bawah kekuasaan raja Muhammad Mirza Khudo Bandeh (saudara Syah Ismail kedua) dari keturunan Shafawiyah, raja ini sangat mendukung penyebaran agama dan mencintai ilmu, ayah Mulla Shadra bekerja di kerajaan tersebut dan dihormati masyarakat karena budi-baiknya.
Syaikh Abdullah Zanjani dalam salah satu karyanya menulis kisah tentang Mulla Shadra, dikisahkan suatu hari ayahnya pergi dan melimpahkan satu pekerjaan kepadanya, setelah kembali dari safar ia meminta laporan pertanggungjawaban keuangan selama ditinggal, dalam laporannya tertulis ada sejumlah besar uang disumbangkan kepada orang fakir, jumlah uang yang disumbangkan tersebut setara dengan jumlah uang yang dinazarkan ayahnya kepada Tuhan ketika memohon seorang anak. Ketika ayahnya menanyakan alasan penggunaan uang sebanyak itu Mulla Shadra menjawab bahwa uang itu adalah uang nazar yang mesti dibayarkan. Ia sangat terperanjat mendengar jawaban anaknya karena hal itu tidak pernah disampaikan kepadanya.
Mulla Shadra dilahirkan di zaman dimana cahaya filsafat redup dan tiada pendukungnya, Tuhan Yang Maha Bijaksana kemudian memilih hamba-Nya dan mengutus untuk menyempurnakan dan menyebarkan ilmu tersebut setelah sebelumnya mengutus secara bertahap filosof-filosof untuk menyiapkan lahan demi menerima hakikat-hakikat yang lebih tinggi.
Filosof Ilahi ini meninggal tahun 1050 H atau 1640 M di kota Bashrah dalam perjalanannya yang ketujuh ke Mekkah dengan berjalan kaki. Filosof Sayyid Abul Hasan al-Qazwini Ra berkata: empat puluh tahun yang lalu saya bertanya tentang kuburan Mulla Shadra kepada salah seorang Arab yang tinggal di Najaf Asyraf Iraq yang sering ke kota Bashrah Iraq, orang Arab tersebut menjawab di kota Bashrah ada kuburan yang dikenal dengan kuburan Mulla Shadra Syirazi, tapi peneliti sejarah tidak pernah menemukan tanda-tanda kuburan filosof tersebut mungkin karena pengaruh perubahan tata letak kota mengakibatkan kuburan tersebut hancur, wallahu a’lam bihaqayikil umur.
Guru-guru Mulla Shadra
Mulla Shadra belajar di Qazwin kepada Syaikh Bahauddin Amili Ra dan Mir damad Ra, setelah ibukota berpindah dari Qazwin ke Ishfahan pada tahun 1006 H atau 1596 M iapun hijrah bersama kedua gurunya ke kota tersebut dan menyelesaikan pelajaran tertingginya seperti Logika, Filsafat dan Irfan di sana. Mulla Shadra banyak sekali mengambil manfaat dari kedua gurunya tersebut.
1. Syaikh Bahauddin Amili
Syaikh Bahauddin (953 – 1030 H) walaupun bukan guru pertama Mulla Shadra tetapi merupakan guru yang paling penting dan berpengaruh dalam membentuk kepribadiannya hingga mencapai kesempurnaan akhlak dan ilmu.
Dia adalah anak dari salah seorang fuqaha Libanon bernama Syaikh Husain bin Abd ash-Shamad Amili Ra. Kota Jabal Amil salah satu kota yang terletak di selatan dan penduduknya mayoritas Syiah, saat itu di bawah kekuasaan pemerintah Jabbar Usmani yang menyiksa dan membunuh banyak ulama-ulama Syiah, sehingga sebagian ulama-ulama hijrah dan berlindung di bawah pemerintahan Iran Shafawi. Syaikh Bahauddin yang saat itu berumur tujuh tahun bersama ayahnya juga hijrah ke Iran. Ayahnya sebagai Syaikh al-Islam dan menjadi wakil ruhani di kota Harat Khurosan dan Syaikh belajar dan menyelesaikan studinya di Iran kemudian dengan cepat menjadi seorang ulama yang terkenal.
Syaikh menguasai berbagai cabang ilmu seperti Fiqih, Hadis, Tafsir, Adabiyat, Matematika dan Astronomi.
2. Mir Damad
Mir Muhammad Baqir Husaini yang dikenal dengan Mir Damad adalah salah seorang ulama terbesar di zamannya dan guru terkenal yang mengajarkan filsafat peripatetik (masyai), filsafat iluminasi (isyraqi), Irfan, Fiqih dan ilmu keislaman. Ayahnya juga seorang faqih dari Istarabad (sekarang Gurgon), di masa muda Mir Damad belajar di Madrasah Khurasan setelah itu menjadi menantu (damad) ulama terkenal dari Libanon Syaikh Ali Karaky yang di kenal sebagai Muhaqqiq kedua dan penasihat agung raja Shafawi, karena ia menjadi menantu ulama tersebut maka gelar Damad yang artinya menantu melekat padanya.
Ia dilahirkan di Khurasan tahun 969 H atau 1562 M, dan menghabiskan masa remajanya di Masyhad ibukota Khurasan. Dia sangat cerdas dan cepat menamatkan semua pelajaaran dasar kemudian berangkat ke Qazwin (saat itu ibukota Pars) untuk menyempurnakan ilmunya. Semua tingkatan keilmuan dilalui dengan sempurna dan menjadi seorang ulama dan guru yang terkenal.
Mulla Shadra semasa remaja bersama ayahnya ke Qazwin bertemu dengan Mir Damad dan menjadi muridnya. Pada tahun 1006 H atau 1596 M ibukota Pars berpindah dari Qazwin ke Ishfahan maka Mir Damad pun memindahkan pengajarannya ke sana. Mulla Shadra banyak mengambil manfaat dari gurunya dan menguasai secara sempurna ilmu yang dimilikinya, ialah pewaris ilmu gurunya. Mulla Shadra sangat menghormati dan mencintai gurunya sedemikian hingga hubungan dengan gurunya sangatlah erat dan tak terputus.
Mir Damad pada tahun 1041 H atau 1631 M meninggal karena sakit dalam perjalanannya ke Iraq.
Tiga tahapan kehidupan Mulla Shadra
Kehidupan Mulla Shadra dibagi dalam tiga tahapan:
Tahapan pertama: masa menuntut ilmu dan mengkaji berbagai pemikiran-pemikiran Filsafat dan Irfan (tasawuf). Di masa ini juga pemikiran kedua gurunya -Mir Damad dan Syaikh Bahauddin- masih berpengaruh kuat pada dirinya.
Tahapan kedua: Karena tekanan dan prilaku yang buruk dari orang-orang yang hasad atas kemajuan ilmunya begitu juga dari orang yang benci karena pemikiran-pemikiran barunya yang banyak bertentangan dengan pemikiran ulama dan fuqaha saat itu dia kemudian meninggalkan Syiraz tahun 1039 H atau 1631 M dan mengasingkan dirinya ke desa Kahak dekat dengan kota suci Qum[4].
Di tempat kudus ini, ia melakukan pensucian diri dengan berkonsentrasi pada peribadatan, puasa dan riyadhah (olah batin). Ia menjalani dengan cepat tingkatan-tingkatan suluk irfani hingga sampai pada derajat spiritual tertinggi dan mukasyafah. Pada tahun 1040 H atau 1632 M kembali ke Syiraz.
Tahapan ketiga: masa menulis, mengajar dan mendidik. Masa ini merupakan hasil dari dua tahapan tersebut. Di masa ini ia menulis kitab Asfar dan karya-karya lainnya yang ditulis pada tahapan pertama kehidupannya merupakan sumber-sumber untuk penulisan kitab Asfar. Mulla Shadra kembali mengajar setelah menyelesaikan secara sempurna sair wa suluk (tangga-tangga perjalanan spiritual) dan telah tersingkap baginya hakikat-hakikat Islam, dengan perbedaan bahwa pengajaran beliau kali ini dengan ilmu syuhudi (intuisi) disertai hadis dari Rasul Saw dan Ahlulbait As. Karena penafsiran-penafsiran beliau berdasarkan kedua sumber tersebut – ilmu syuhudi dan hadis – tidak sesuai dengan apa yang dipahami secara umum oleh banyak ulama dan fuqaha, akhirnya membangkitkan kebencian dan kemarahan mereka yang berujung pada pengkafiran (tafkir) dirinya dan pengharaman membaca karya-karyanya.
Mulla Shadra setelah melewati ketiga tahapan tersebut berkata:
Segala hal yang mengantarkan kami kepada inayah (perhatian) dan hidayah Tuhan serta pengetahuan rahasia tauhid dan alam akhirat, saya berkeyakinan bahwa tak satupun pengikut filsafat peripatetik selain Aritoteles sampai kepada derajat pengetahuan tersebut dan juga saya yakin tak satupun para sufi yang sampai pada mukasyafah (penyingkapan) irfani mampu mengargumentasikan segala hal yang didapati dari mukasyafah[5].
Putra-putri Mulla Shadra
Kemungkinan besar Mulla Shadra menikah diumur 40 tahun dan dianugerahkan lima anak dua laki-laki dan tiga perempuan anak, berikut ini nama dan tahun kelahiran mereka:
1. Ummu Kulsum lahir tahun 1019 H/1609 M
2. Ibrahim lahir tahun 1021H/1611 M
3. Zubaidah lahir tahun 1024 H/1614 M
4. Nizamuddin Ahmad lahir tahun 1031 H/1621 M
5. Ma’shumah lahir tahu 1033 H/1623 M
Murid-murid Mulla Shadra
Pada tahapan ketiga kehidupan Mulla Shadra dikatakan bahwa dia kembali mengajar dan mendidik murid-muridnya di madrasah Syiraz yang bernama Khan di bangun pada zaman pemerintahan Syah Abbas Shafawi.
Di madrasah inilah dihasilkan banyak murid-muridnya yang ternama dan kemudian menjadi filosof terkenal, di bawah ini kami hanya menyebutkan murid-muridnya yang memiliki karya-karya yang banyak, seperti:
1. Mulla Muhsin Faidh Kasyani, menikah dengan Zubaidah anak ketiga Mulla Shadra
2. Mulla Abdurazzaq Lahiji yang di gelari Fayyadh, menikah dengan Ummu Kulsum anak pertama Mulla Shadra.
3. Mirza Syarafuddin Abu Ali Ibrahim, anak kedua Mulla Shadra
4. Nizamuddin Ahmad, anak keempat Mulla Shadra
5. Syaikh Husain Tankabi
6. Syah Abul Wali Syiraz
7. Mulla Muhammad Irwani
8. Muhammad bin Ridha bin Ogho Jani
Karya-karya Mulla Shadra
1. Al-Hikmah al-Muta’âliyah fi al-Asfar al-Arba’ah: kitab ini adalah magnum opusnya dan induk dari semua karya-karyanya serta paling lengkapnya pembahasan filsafat dari seorang filosof. Kitab ini terbagi dalam empat perjalanan: perjalanan dari makhluk ke Tuhan, perjalanan dari Tuhan ke Tuhan bersama Tuhan, perjalanan dari Tuhan ke makhluk bersama Tuhan, perjalanan dari makhluk ke makhluk bersama Tuhan.
2. Ittihâd al-Âqil wa al-Ma’qul: risalah ini merupakan kesimpulan dari pembahasan-pembahasan khusus yang ada di kitab Asfar.
3. Ittishâf al-Mahiyat bi al-Wujud: risalah ini menjelasakan tentang bagaimana hubungan kesatuan antara esensi (mahiyat) dengan eksistensi (wujud).
4. Ajwibatu al-Masail: kandungan risalah ini tentang penjelasan kekuasaan Tuhan, substansi, pengertian aksiden dan masalah-masalah komposisi dan terbentuknya materi dan jawaban Mulla Shadra atas pertanyaan yang ditujukan kepada filosof Nashruddin Thusi dari seseorang tapi tidak terjawab, pertanyaan tersebut berkisar: gerak merupakan sebab dari waktu, penciptaan jiwa manusia, bagaimana terpancarnya kejamakan dari ketunggalan wujud..
5. Ajwibatul al-Masâil an-Nashiriyat: berisi lima persoalan antara lain: pertanyaan tentang gerak, tentang jiwa nabati, bagaimana hadirnya gambaran sesuatu dalam pikiran, perbedaan pengindraan hewan dan manusia, penciptaan jiwa setelah kematian.
6. Asrar al-Ayat wa Anwâr al-Bayyinat: Kitab ini membahas tentang ilmu-ilmu Ketuhanan, perbuatan ilahi dan ilmu tentang alam akhirat.
7. Aksirul ‘Arifin: tentang makrifat-makrifat yang tinggi, membahas tentang pembagian ilmu—ilmu dan makrifat nafs (ilmu jiwa).
8. At-Tasyakhkhush: berisi tiga bab tentang pembahasan umum wujud.
9. At-Tasawwur wa at-Tashdiq: berhubungan dengan pembahasan logika tapi khusus mengupas masalah-masalah tolok ukur kebenaran pemahaman manusia.
10. Ta’liqât ‘ala al-Hikmat al-Isyrâq: catatan-catatan kaki Mulla Shadra atas buku Syaikh Isyraq Suhrawardi.
11. Ta’liqât ‘ala al-Ilahiyyat as-Syifa: berisi penjelasan, tafsir dan kritik atas kitab Syifa Ibnu Sina.
12. At-tafsir al-Quran: berisi tafsiran dan penjelasan beberapa surah dari al-Quran, antara lain: al-Hadid, Ayatul Kursi, an-Nur, as-Sajdah, al-Fatihah, al-Baqarah, Yasin, Jum’ah, al-Waqi’ah, at-Thariq, al-‘Ala dan az-Zalzalah.
13. Huduts al-‘Âlam: penjelasan tentang hadis dan hadirnya alam materi.
14. Al-Hasyr: berisi penjelasan bahwa kebangkitan setelah hari kiamat berkaitan dengan semua makhluk bukan hanya manusia.
15. Al-Hikmat al-Arsyiyyah: Kitab ini merupakan kesimpulan kitab Asfar yang hanya memuat pikiran-pikiran Mulla Shadra.
16. Khalq al-‘Amâl: membahas masalah jabr (keterpaksaan) dan ikhtiar (kebebasan) berdasarkan argumentasi rasional dan dukungan hadis-hadis Ahlulbait As.
17. Diwâne Sy’er: kumpulan syair-syair Mulla Shadra yang dikumpulkan oleh muridnya Mulla Muhsin Kasyani.
18. Zad al-Masafir wa Zad as-Sâlik: pembahasan khusus tentang ma’ad jasmani.
19. Sarayân Nur Wujud al-Haq fi al-Maujudat: risalah ini mengkaji rahasia kebersamaan Tuhan dengan makhluk.
20. Seh Asl: kitab ini menggambarkan kepada kita bagaimana sebagian ulama dan fuqaha menampakkan kebencian dan perlawanannya kepada filosof dan ‘arif, dan juga berisi nasihat-nasihat spiritual bagi para pesuluk ilmu dan amal.
21. Syar Ushul al-Kâfi: hanya menafsirkan bab-bab tauhid dan doktrin-doktrin aqidah lainnya dalam kumpulan hadis Syiah ini.
22. Syar Hidayat al-Asiriyyah: kitab ini menafsirkan pemikiran-pemikiran aliran filsafat peripatetik.
23. Asy-Syawâhid ar-Rububiyyah fi al-Manâhij as-Sulukiyyah: Kitab ini mengulas seluruh pikiran-pikiran Mulla Shadra secara luas atau hanya memuat dotrin-dotrin aliran filsafat muta’aliyyah.
24. Al-Qadha wa al-Qadr: risalah ini memuat penjelasan tentang arti qadha dan qadar, bagaimana hadirnya keburukan dalam qadha ilahi, faktor penting dalam ikhtiar dan pengaruh doa serta manfaat ketaatan kepada Tuhan.
25. Kasr Ashnam al-Jahiliyyah: Kitab ini ditulis mengkritik prilaku orang-orang yang mengaku sufi.
26. Al-Lamâ’at al-Masyriqiyyah fi al-Mubahats al-Manthiqiyyah: Kitab ini khusus membahas masalah-masalah logika.
27. Lammiyat ikhtishash al-manthaqat bi mawdi’a mu’ayyan min al-falak.
28. Al-mabda’ wa al-ma’ad: Kitab ini membahas mulai dari tauhid sampai ilmu tentang alam akhirat.
29. Mutasyabih al-Quran: risalah ini mengkaji perkataan aliran-aliran yang bermacam dan juga kesimpulan pembahasan ayat kursi.
30. Al-Mizâj
31. Al-Masail al-Qudsiyyah: risalah ini memuat hukum-hukum tentang wujud dan wajib al-wujud, juga berisi tentang penetapan wujud pikiran dan beberapa pembahasan tentang akal dan tingkatan-tingkatannya.
32. Al-Masyâ’ir: Kitab ini berisi tentang pengertian wujud, hakikat wujud dan hal-hal partikular tentang wujud. Paling lengkapnya pembahasan tentang wujud dalam kitab ini.
33. Al-Mazahir al-Ilahiyyah fi Asrâr al-‘Ulum al-Kamâliyah: Kitab ini mengulas tentang makrifat zat, sifat dan perbuatan Tuhan. Penetapan wujud Tuhan, ahadiyyat, wahidiyyat dan asma-asma Tuhan serta hari kemudian.
34. Mafatih al-Ghaib: paling baiknya kitab berkenaan dengan tafsir al-Quran.
35. Al-Waridat al-Qalbiyyah: kitab menjelaskan tentang penyingkapan irfani atas masalah ketuhanan, tingkatan alam besar dan alam kecil (manusia) serta pentingnya pensucian diri dan menjalani maqam-maqamnya.
36. Nomeh hoye Sadr al-mutaallihin: tentang surat-surat pujian Mulla Shadra kepada gurunya Mir Damad.
37. Ashalat j’al al-Wujud: risalah yang menguraikan tentang penciptaan wujud dan secara prinsipil bersandarnya ciptaan kepada wujud.
Hikmah Muta’aliyah
Pada dasarnya hikmah dalam filsafat Mulla Shadra memiliki pengertian khusus yaitu mengenal Tuhan, sifat, perbuatan dan manifestasi-Nya.
Dalam kitab Mafâtih al-Ghaib tentang hikmah muta’aliyyah berkata: hakikat hikmah diperoleh dari ilmu laduni (hudhuri), jika seorang belum mencapai maqam ini maka tidak disebut hakim (seorang yang memiliki hikmah).
Hikmah Muta’aliyah dalam meraih makrifat menggunakan tiga sumber yaitu: argumen rasional (akal), penyingkapan (mukasyafah), al-Quran dan hadis Ahlulbait As, karenanya dikatakan paling tingginya hikmah.
Dalam kitab Asfar dia berkata bahwa argumen akal, penyingkapan dan wahyu sejalan satu sama lain dan tidak saling bertentangan, orang yang tidak mengikuti para nabi dan rasul pada dasarnya tidak memiliki hikmah dan tidak disebut sebagai hakim atau filosof ilahi. Syariat yang benar tidak mungkin bertentangan dengan akal, karena pada prinsipnya keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu makrifat Tuhan, sifat dan perbuatan-Nya.
Untuk sampai ke derajat kasyf dan syuhud maka akal harus dicahayai dengan syariat, karena hakikat-hakikat yang diperoleh lewat argumen akal jika belum menyatu dengan realitas luar maka merupakan hijab untuk mencapai hakikat-hakikat syuhudi, dengan bahasa lain kalau akal belum dicahayai oleh syariat maka segala yang dipahami akal dengan ilmu husuli tidak akan pernah mencapai ilmu huduri.
Menurut filosof ini fiqih untuk mengarahkan amal perbuatan manusia, jika prilaku manusia terarah maka kondisi jiwa manusia akan sempurna menerima pancaran ilmu dan makrifatnya dari Tuhan. Jadi fiqih merupakan pendahuluan bagi kesempurnaan ilmu dan makrifat manusia.
Dalam filsafat Mulla Shadra empat aliran berpikir - aliran peripatetik, iluminasi, kalam dan tasawuf - tergabung secara sempurna dan melahirkan aliran baru filsafat yang disebut Hikmah al-Muta’aliyah, aliran filsafat ini walaupun secara metodologi sama dengan empat aliran di atas tapi pemikiran yang dihasilkannya sangat jauh berbeda. Karenanya aliran filsafat ini dikatakan sebagai aliran yang berdiri sendiri dan sebuah pandangan dunia yang baru.
Aliran filsafat Mulla Shadra mampu menggabungkan antara dotrin Islam dengan pemikiran filsafat. Al-Quran dan hadis dijadikan tumpuan dan sumber ilham untuk menyelesaikan setiap persoalan dan pembahasan yang rumit dalam filsafat. Inilah salah satu kelebihan yang tidak dimiliki oleh aliran-aliran filsafat lainnya. Penggabungan dua unsur tersebut menjadikan karya-karya filsafatnya sebuah kitab tafsir agama dan begitu juga sebaliknya kitab tafsir al-Quran dan hadis bisa dinamakan sebuah kitab filsafat.[]
[1] . Dua tahun setelah kelahiran filosof Descartes.
[2] . Beliau adalah salah seorang marja’ besar di Najaf Asyraf Iraq, menulis banyak buku dalam bidang fiqih, Ushul fiqih, tafsir dan filsafat khususnya mendalami filsafat Mulla Shadra.
[3] . Nama lengkap kitab ini al-Hikmah al-Muta’aliyah fi al-Asfar al-Arba’ah al-Aqliyah. Karya yang terbesar dan terlengkap dalam membahas dotrin-dotrin filsafat dan kritik atas seluruh pemikiran-pemikiran filosof lainnya serta mengungkapkan pemikirannya sendiri di akhir setiap pembahasan.
[4] . Kota suci Qom saat itu belum menjadi kota ilmu dan filsafat, di sini dikuburkan anak perempuan Imam Syiah yang ketujuh (Imam Musa Kazim As) dan saudara perempuan Imam Syiah kedelapan (Imam Ridha As) bernama Sayyidah Ma’shumah.
[5] . Mukasyafah dan musyahadah dari sisi arti sangatlah dekat, dengan perbedaan bahwa mukasyafah lebih sempurna dari musyahadah. Mukasyaafah yaitu jiwa manusia sampai pada tingkat dimana hakikat-hakikat batin dan perkara-perkara akal tersingkap baginya tanpa berpikir dan berkehendak.
Posted by revoltneverdie at 02:21 pm
Make a comment Permalink
Abdul Wahid bin Zaid berkata, "Ketika itu kami naik perahu, angin kencang berhembus menerpa perahu kami, sehingga kami terdampar di suatu pulau. Kami turun ke pulau itu dan mendapati seorang laki-laki sedang menyembah patung."
Kami berkata kepadanya, "Di antara kami, para penumpang perahu ini tidak ada yang melakukan seperti yang kamu perbuat."
Dia bertanya, "Kalau demikian, apa yang kalian sembah?"
Kami menjawab, "Kami menyembah Allah."
Dia bertanya, "Siapakah Allah?"
Kami menjawab, "Zat yang memiliki istana di langit dan kekuasaan di muka bumi."
Dia bertanya, "Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?"
Kami jawab, "Zat tersebut mengutus seorang rasul kepada kami dengan membawa mukjizat yang jelas, maka rasul itulah yang menerangkan kepada kami mengenai hal itu."
Dia bertanya, "Apa yang dilakukan oleh rasul kalian?"
Kami menjawab, "Ketika beliau telah tuntas menyampaikan risalah-Nya, Allah SWT mencabut rohnya, kini utusan itu telah meninggal."
Dia bertanya, "Apakah dia tidak meninggalkan sesuatu tanda kepada kalian?"
Kami menjawab, "Dia meninggalkan kitabullah untuk kami."
Dia berkata, "Coba kalian perlihatkan kitab suci itu kepadaku!"
Kemudian, kami memberikan mushaf Qur’an kepadanya.
Dia berkata, "Alangkah bagusnya bacaan yang terdapat di dalam mushaf itu."
Lalu, kami membacakan beberapa ayat untuknya. Tiba-tiba ia menangis, dan berkata, "Tidak pantas Zat yang memiliki firman ini didurhakai." Maka, kemudian ia memeluk Islam dan menjadi seorang muslim yang baik.
Selanjutnya, dia meminta kami agar diizinkan ikut serta dalam perahu. Kami pun menyetujuinya, lalu kami mengajarkan beberapa surah Alquran. Ketika malam tiba, sementara kami semua tidur, tiba-tiba dia bertanya, "Wahai kalian, apakah Zat yang kalian beri tahukan kepadaku itu juga tidur?"
Kami menjawab, "Dia hidup terus, Maha Mengawasi dan tidak pernah mengantuk atau tidur."
Dia berkata, "Ketahuilah, adalah termasuk akhlak yang tercela bilamana seorang hamba tidur nyenyak di hadapan tuannya." Dia lalu melompat, berdiri untuk mengerjakan salat. Demikianlah, kemudian ia qiamullail (shalat malam) sambil menangis hingga datang waktu subuh.
Ketika sampai di suatu daerah, aku berkata kepada kawanku, "Laki-laki ini orang asing, dia baru saja memeluk Islam, sangat pantas jika kita membantunya." Mereka pun bersedia mengumpulkan beberapa barang untuk diberikan kepadanya, lalu kami menyerahkan bantuan itu kepadanya. Seketika saja ia bertanya, "Apa ini?"
Kami jawab, "Sekadar infak, kami berikan kepadamu."
Dia berkata, "Subhanallah, kalian telah menunjukkan kepadaku suatu jalan yang kalian sendiri belum mengerti. Selama ini aku hidup di suatu pulau yang dikelilingi lautan, aku menyembah zat lain, sekalipun demikian dia tidak pernah menyia-nyiakan aku … maka bagaimana mungkin dan apakah pantas Zat yang aku sembah sekarang ini, Zat Yang Maha Mencipta dan Zat Maha Memberi rezeki akan menelantarkan aku?"
Setelah itu dia pergi meninggalkan kami. Beberapa hari kemudian aku mendapat kabar bahwa ia dalam keadaan sakaratul maut. Kami segera menemuinya, dan ia sedang dalam detik-detik kematian. Setiba di sana aku ucapkan salam kepadanya, lalu bertanya, "Katakanlah, apa yang kamu inginkan?"
Dia menjawab, "Keinginanku adalah berupa sebuah doa, dan itupun telah lama terkabul yaitu saat kalian datang ke pulau itu, dimana ketika itu aku tidak mengerti kepada siapa aku harus menyembah."
Kemudian, aku bersandar pada salah satu ujung kainnya untuk menenangkan hatinya, tiba-tiba saja aku tertidur. Dalam tidurku aku bermimpi melihat teman yang di atasnya terdapat kubah di sebuah kuburan seorang ahli ibadah. Di bawah kubah terdapat tempat tidur sedang di atasnya nampak seorang gadis sangat cantik. Gadis itu berkata, "Demi Allah, segeralah mengurus jenazah itu, aku sangat rindu kepadanya." Maka, aku terbangun dan aku dapati orang tersebut telah mati. Lalu aku memandikan dan kafani jenazah itu.
Pada malam harinya, saat aku tidur, aku memimpikannya lagi. Aku lihat ia sangat bahagia, didampingi seorang gadis di atas tempat tidur di bawah kubah sambil menyenandungkan firman Allah, "(Sambil mengucapkan), 'Salamun 'alaikum bima shabartum.' Maka, alangkah baiknya tempat kesudahan itu" (Ar-Ra'd: 24). (Al-Mawa'izh wal-Majalis, 40).
Posted by revoltneverdie at 02:16 pm
Make a comment Permalink
SEBUAH KENISCAYAAN
Jika
saja revolusi perancis yang saat itu digerakkan kaum buruh dapat
menumbangkan kokohnya dinding penjara Bastille, bagaimana halnya dengan
Islam? Seharusnya Islam tidak saja dapat menumbangkan kokohnya dinding
penjara yang dibuat oleh kapitalisme, namun dapat menjadi pesaing serta
tandingan yang tak dapat dikalahkan oleh ideologi apa pun juga di dunia
ini.
Jika
saja revolusi yang dilakukan Che, Zapatista, serta sederet orang yang
menghendaki perubahan, bagaimana halnya dengan Islam? Seharusnya Islam
dapat melakukan sesuatu yang lebih dalam melakukan perubahannya, karena
Islam bukan saja memiliki milyaran manusia yang menghuni bumi ini,
namun Islam juga memiliki semangat ruh yang tidak dapat dikalahkan oleh
apa pun juga.
Islam
hadir membawa semangat perubahan, bukan saja semangat sebatas lipstik
semata. Namun, sebagai semangat yang dapat mengantarkan pengembannya
sebagai manusia yang tercerahkan serta memiliki konsep ideologi
mumpuni, ideologi yang mampu mendobrak batas-batas yang telah dibuat
oleh kapitalisme. Islam memiliki jiwa yang dapat menggentarkan musuh
didepannya, menggentarkan musuh yang berusaha menjegalnya dari
belakang, musuh yang senantiasa berusaha meraih dan menjajah secara
rahasia maupun terang-terangan.
Sebuah
keniscayaan itu pasti akan datang! sebuah keniscayaan akan datang
tatkala manusia yang mengemban Islam --sebagai ideologi-- senantiasa
menerapkan Islam dimana pun dia berada. Maka, Islam akan tegak dengan
sendirinya, Islam akan menjadikan bumi subur, Islam akan menyemai
manusia-manusia yang tangguh, manusia yang ridho akan Islam, dan Islam
pun akan ridho kepada mereka.
Sebuah
keniscayaan itu akan tiba, ketika bala tentara Amerika Serikat yang
memiliki ribuan proyektil rudal dan nuklir, ratusan ribu tentara, serta
canggihnya teknologi, seketika itu hancur berantakan dengan datangnya
Islam sebagai kekuatan tangguh --dengan kekuatan jihad.
Lalu
apa jadinya jika Islam sebagai pesaing kapitalisme --lebih-lebih
sosialisme-- dapat meruntuhkan mereka? Tiada yang mustahil, selama
manusia yang merasakan keyakinan dan tanpa keraguan akan Islam itu
berusaha menusukkan pisau-pisau keimanan kedalam hatinya sedalam
mungkin, maka akan lahir Abu Bakar, Utsman, Ali serta sederet
mujahid-mujahidah yang telah merasakan Islam sebagai sebuah ideologi
ini mampu mendirikan Madinah sebagai sebuah negara Islam pertama di
dunia. Negara yang dapat mengayomi serta menjaga hak dan kewajiban
penduduknya dengan baik. Negara yang memiliki kekuatan pemikiran,
kekuatan bala tentara --non-militerisme, kekuatan aqidah, kekuatan
sumberdaya alam, kekuatan moral dan kesetaraan --kesetaraan sesuai
kodrat, kekuatan yang dapat mengantarkan sebuah negara kepada rahmat
dan mendatangkan ridho dari Sang Pencipta.
Posted by revoltneverdie at 01:50 am
Make a comment Permalink
Don't buy Vista Security


